Kamis, 25 Agustus 2011

Sayangi Orang Tuamu

Ada sebatang pohon mangga.
Daunnya rimbun, sarat
berbuah sepanjang tahun.
Seorang anak kecil sangat
senang bermain di pohon
mangga setiap harinya.
Memanjat ke puncak pohon,
merayap ke dahan, dan
memetik buahnya. Kemudian
meluncur turun bersandar di
batang pohon dan terlelap
dalam kesejukan naungan
daun yang rimbun. Ia
mencintai pohon mangga itu
dan demikian pula pohon
mangga itu kepadanya.
Waktu berlalu dengan
cepatnya. Anak kecil itu
tumbuh menjadi remaja. Dia
tidak lagi suka bermain-main
dan tentunya jarang
mendatangi pohon mangga
itu.
Sampai suatu hari si remaja
menghampiri pohon mangga
dengan wajah muram. Pohon
mangga menyambutnya
dengan gembira: "Mari
bermain seperti dahulu".
"Saya bukan anak-anak lagi,
saya sudah remaja, sudah
tidak senang bermain". "Lalu
apa masalahmu. Katakanlah,
mungkin saya dapat
menolongmu," pohon
mangga membujuk. "Begini,
saya ingin mempunyai kecapi
yang merdu untuk menghibur
kekasihku," si remaja ini
mengutarakan
kemusykilannya. "Oh, itu
mudah, petiklah buahku,
kemudian juallah untuk
memperoleh uang. Maka
engkau dapat membeli kecapi
yang merdu".
Si remaja itu bangkit
semangatnya. Dipetiknya
buah mangga itu sampai tak
bersisa. Pohon mangga
tampak gembira, karena telah
mengeluarkan si remaja itu
dari kesusahannya.
Suatu hari remaja itu datang
lagi ke pohon mangga.
Bergembiralah pohon mangga
memanggilnya untuk
bermain. "Saya tidak punya
waktu untuk bermain, saya
telah dewasa, telah beristeri,"
ujar remaja yang telah dewasa
itu. "Lalu kesulitan apa pula,
boleh jadi saya dapat
menolongmu lagi," kata
pohon mangga. "Begini, saya
membutuhkan rumah tempat
tinggal". Belum sempat
pemuda dewasa itu
mengakhiri kalimatnya, pohon
mangga menyela: "O, mudah
pangkaslah semua dahan, dan
cabang batangku, cukuplah itu
untuk mendirikan rumah.
Pemuda itu lalu memangkas.
Maka tinggallah pohon
mangga seperti tonggak,
hanya batang tanpa dahan,
cabang, ranting bahkan daun.
Tumbuh tidak, matipun tidak.
Waktu berlalu, datanglah si
pemuda itu ke pohon mangga
yang sudah menjadi tonggak.
"Boleh jadi inilah yang terakhir
saya minta nasihat kepadamu.
Saya sudah menjelang
manula. Aku ingin menikmati
hari tua, berlayar di danau.
Bagaimana mungkin saya
mendapatkan perahu,?"
"Tebanglah batangku pada
pangkalnya, buatlah perahu",
kata akhir pohon mangga.
Kini pohon mangga yang
dahulu berdaun rimbun,
berbuah lebat, hanya tinggal
akar-akarnya saja yang
tersembul sedikit di atas
tanah. Musim dan tahun
berganti. Laki-laki yang sudah
tua renta itupun datang
kembali. Yang diinginkannya
hanya sekedar melabuhkan
dirinya berbantalkan akar
pohon mangga.
Pohon mangga ibarat kedua
orang tua kita. Ketika kecil kita
senang bermain dengan
mereka. Tatkala dewasa, kita
tinggalkan beliau berdua,
hanya datang bila dianggap
perlu. Padahal bagaimanapun
keadaan mereka, orang tua
tetap akan memberikan
segalanya kepada kita.
Selayaknyalah kita mendoakan
kedua orang tua kita.